20 Oktober 2007…

Sebuah hari yang merubah statusku dan hidupku. Dan kini sudah 7 bulan aku mengarungi hari yang penuh suka duka dan gembira bersama sosok yang selalu kunanti tiap senin-jum’at jam 17.15 di tempat ojek (lho..?), Suamiku…

Bagiku, pernikahan ini adalah sesuatu yang benar-benar istimewa. Pertama kali kami bertemu di An-Nuur waktu membahas masalah TPA, sama sekali saat itu tidak ada pikiran akan bisa menjadi pendamping hidupnya dan kini setiap hari aku bisa bertemu dan bercanda dengannya di rumah kami.

Suamiku…, betapa beruntungnya diriku karena dari sekian banyak wanita di dunia ini, ternyata aku yang kau pilih untuk menjadi istrimu. Meski terlalu banyak kekurangan pada diriku, tapi kau selalu sabar dan berusaha untuk selalu membantuku mengurusi pekerjaan yang harusnya menjadi kewajiban istri.

Rasa malas yang sering hinggap pada diriku kau tanggapi dengan sabar, meski terkadang riak-riak penuh warna turut hadir dalam rumah tangga kita. Semoga riak-riak itu akan semakin mengukuhkan hati-hati kita dan bukannya menodai kebahagiaan kita.

Suamiku…, ijinkanlah aku menjadi bidadarimu. Meski aku tahu aku bukanlah istri yang terbaik, bahkan aku adalah istri yang buruk. Tapi hati ini selalu berharap agar bisa selalu bersamamu.

Suamiku…, ijinkanlah aku menjadi bidadarimu, meski mungkin aku tidak bisa menjadi satu-satunya bidadarimu karena di sana banyak bidadari lain yang menarik hatimu, tapi ijinkanlah kau memilihku lagi untuk menemanimu lagi di syurga nanti, Amin..

Bersama kita akan memuji asma Allah sepanjang hari, bersama jundi-jundi tercinta kita..

Ya Allah..lapangkanlah jalan kami untuk menuju syurga-Mu..

Ya Allah..jauhkanlah kami dari kemalasan yang menjauhkan kami dari-Mu.