rasa sepi itu telah pergi Senin, Mei 26 2008
Uncategorized 4:21 am
Selasa lalu, pagi2 jam 05.00-an aku mengantarkan suamiku sampai ke jalan raya di dekat rumahku. Ia akan meninggalkanku selama 4 hari dalam rangka dinas luar ke Palopo, di Sulawesi. Lupa, sulawesi mana ya..?
Waktu berpamitan, hatiku merasa sedih karena hari libur yang mestinya untuk bersenang-senang berdua ternyata malah aku sendirian saja di rumah. Mataku masih menatap taksi yang membawanya pergi menuju bandara seiring dengan rasa sepi yang tiba-tiba menyergapku. Setelah taksi itu menghilang di kejauhan, aku bergegas kembali ke rumah. Membuka pintu dan menguncinya kembali. Tiba-tiba aku ingin menangis. Aku merasa sangat kesepian, dan sepertinya baru kali ini aku merasa sangat kesepian seperti saat itu. Padahal, sudah beberapa kali aku ditinggal DL tapi aku biasanya dulu nginep di kost temen sehingga ada ‘penawar’ kesepian. sekarang aku benar-benar sendiri. Aku mencoba mengusir rasa gundahku dengan main komputer. Sesekali air mataku hampir jatuh tapi aku tahan terus. kami pun tetap ber-sms ria entah sampai berpuluh kali mungkin, sebelum dia naik pesawat, trus dilanjutkan lagi setelah dia nyampe i makasar. Ah…pantas aja orang pacaran tu butuh pulsa banyak. kangen terus sich..
Hari kedua, aku mulai masuk kantor lagi. Aku yang orangnya pemalas, sekarang jadi tambah pemalas lagi. Pagi2 aku jadi menghidupkan komputer dan menyetel tilawah untuk mengusir rasa kesendirianku. Entah berapa lama aku duduk di depan komputer dan ikut tilawah bareng dengan suara ustadz di program komputer itu, sampai aku tersadar kalau udah telat. Ups, belum masak juga..aduh…begini nih kalo sendiri, nggak ada yang ngingetin. Aku pun kelimpungan melakukan pekerjaanku tiap pagi itu. Jam 7.30-an aku baru berangkat dan terpaksa naik ojek.
Hari-hari berikutnya tak jauh beda dengan sebelumnya, tapi kini aku jadi beli mentari biar bisa telpon2an. Duuh…gitu tuh kalo udah punya suami, canda temenku waktu aku cerita kalo ganti nomer. he5 dia jadi kebingungan menghubungiku nggak bisa2.
Akhirnya, hari jum’at pun tiba. Di kantor, aku merasa tak tenang karena pingin segera ktemu lagi dengan suamiku. bentar-bentar liat jam, sampe akhirnya jam menunjukkan jam 5 sore. Hore!! dah waktunya pulang!!
Sore itu aku nggak lagi pulang naik ojek. Karena ojek pribadiku yang setia sudah kembali menjemputku di tempat biasa. Senang rasanya sudah bisa ketemu lagi. Apalagi, waktu sampai di rumah, dia memberiku banyak kejutan. Ada adiknya (ah, ini mah bukan kejutan ya..), ada banyak kue macam2 khas palopo (Wuih…enak lho…tadi aku bawa empat sekarang udah habis :)), trus kaos buat dibagi2in ke keluarga, dan khusus untukku (setahuku sich..), dia membelikanku kain songket warna emas. Cantiik sekali. Seperti baju nikah aja. he5.
Sekarang aku kembali menikmati hari2 bersamanya, tiada lagi rasa gundah maupun sepi. aku jadi teringat pada syair seorang penyair dari arab (aku lupa siapa), tapi aku mengubahnya dikit :
Tiada rasa gundah kalau ada suami di sampingku
Rasa gundah itu ada kalau suami berada jauh dariku.
I love u my husband… ![]()