rasa sepi itu telah pergi Senin, Mei 26 2008 

Selasa lalu, pagi2 jam 05.00-an aku mengantarkan suamiku sampai ke jalan raya di dekat rumahku. Ia akan meninggalkanku selama 4 hari dalam rangka dinas luar ke Palopo, di Sulawesi. Lupa, sulawesi mana ya..?

Waktu berpamitan, hatiku merasa sedih karena hari libur yang mestinya untuk bersenang-senang berdua ternyata malah aku sendirian saja di rumah. Mataku masih menatap taksi yang membawanya pergi menuju bandara seiring dengan rasa sepi yang tiba-tiba menyergapku. Setelah taksi itu menghilang di kejauhan, aku bergegas kembali ke rumah. Membuka pintu dan menguncinya kembali. Tiba-tiba aku ingin menangis. Aku merasa sangat kesepian, dan sepertinya baru kali ini aku merasa sangat kesepian seperti saat itu. Padahal, sudah beberapa kali aku ditinggal DL tapi aku biasanya dulu nginep di kost temen sehingga ada ‘penawar’ kesepian. sekarang aku benar-benar sendiri. Aku mencoba mengusir rasa gundahku dengan main komputer. Sesekali air mataku hampir jatuh tapi aku tahan terus. kami pun tetap ber-sms ria entah sampai berpuluh kali mungkin, sebelum dia naik pesawat, trus dilanjutkan lagi setelah dia nyampe i makasar. Ah…pantas aja orang pacaran tu butuh pulsa banyak. kangen terus sich..

Hari kedua, aku mulai masuk kantor lagi. Aku yang orangnya pemalas, sekarang jadi tambah pemalas lagi. Pagi2 aku jadi menghidupkan komputer dan menyetel tilawah untuk mengusir rasa kesendirianku. Entah berapa lama aku duduk di depan komputer dan ikut tilawah bareng dengan suara ustadz di program komputer itu, sampai aku tersadar kalau udah telat. Ups, belum masak juga..aduh…begini nih kalo sendiri, nggak ada yang ngingetin. Aku pun kelimpungan melakukan pekerjaanku tiap pagi itu. Jam 7.30-an aku baru berangkat dan terpaksa naik ojek.

Hari-hari berikutnya tak jauh beda dengan sebelumnya, tapi kini aku jadi beli mentari biar bisa telpon2an. Duuh…gitu tuh kalo udah punya suami, canda temenku waktu aku cerita kalo ganti nomer. he5 dia jadi kebingungan menghubungiku nggak bisa2.

Akhirnya, hari jum’at pun tiba. Di kantor, aku merasa tak tenang karena pingin segera ktemu lagi dengan suamiku. bentar-bentar liat jam, sampe akhirnya jam menunjukkan jam 5 sore. Hore!! dah waktunya pulang!!

Sore itu aku nggak lagi pulang naik ojek. Karena ojek pribadiku yang setia sudah kembali menjemputku di tempat biasa. Senang rasanya sudah bisa ketemu lagi. Apalagi, waktu sampai di rumah, dia memberiku banyak kejutan. Ada adiknya (ah, ini mah bukan kejutan ya..), ada banyak kue macam2 khas palopo (Wuih…enak lho…tadi aku bawa empat sekarang udah habis :)), trus kaos buat dibagi2in ke keluarga, dan khusus untukku (setahuku sich..), dia membelikanku kain songket warna emas. Cantiik sekali. Seperti baju nikah aja. he5.

Sekarang aku kembali menikmati hari2 bersamanya, tiada lagi rasa gundah maupun sepi. aku jadi teringat pada syair seorang penyair dari arab (aku lupa siapa), tapi aku mengubahnya dikit :

Tiada rasa gundah kalau ada suami di sampingku

Rasa gundah itu ada kalau suami berada jauh dariku.

I love u my husband… :)

Saat hari itu tiba Kamis, Mei 15 2008 

Saat hari pernikahan pastilah hari yang sangat dinanti oleh semua orang. Hari pernikahan bagi tiap orang pasti menyisakan kenangan tersendiri, baik yang lucu, ribut, bahkan mungkin ada sebagian yang menjengkelkan. Tapi semua itu tertutupi oleh kebahagiaan yang segera menghapus segala lelah yang telah menumpuk selama berminggu-minggu untuk persiapan. Tak terkecuali denganku.

Hari pernikahanku dilaksanakan ba’da lebaran, yakni tanggal 20 Oktober 2007. Jadinya, kami melakukan persiapan sejak masih bulan ramadhan. Duh…masak bulan ramadhan malah buat beres2 rumah yang masih serba semrawut. Belum lagi, kami harus bertemu dengan kedua opsi dari Bapak dan Ibu yang mempunyai pandangan berbeda soal “desain” rumah kami saat hari “H”. Ditambah lagi, sekitar seminggu sebelum pernikahan itu tiba, no HP calon suamiku nggak bisa dihubungi. Padahal, saat itu adalah saat-saat kritis karena orang tuaku ingin menanyakan bagaimana konsep dari keluarga pihak mempelai pria. Duh…aku juga bingung. berhari-hari aku berusaha menghubungi tapi nggak nyambung-nyambung. Ups..apalagi sang ‘dia’ masih ada di Kuala Tungkal karena tempat penempatannya saat itu emang masih di sana. Kapan dia pulang ke Mojokerto, dan kapan ke yogya (rumahku) kami sama sekali tidak tahu. Pertanyaan orang tua pun jadi berubah, “Sebenere sido mantenan ora sih Nor ? Lha koq ora ono kabar? Tiwasno nyiapne engko ra sido…? , tanya Bapak yang mungkin udah putus asa. Aku bingung juga menjawabnya. Gimana ini?

Akhirnya sekitar 3 hari menjelang pernikahan, calon suamiku itu menghubungi kami. Duuh…akhirnya..

Persiapan pun berlanjut lagi dengan penuh semangat. Chayo! Beresin rumah!! ^-^

2 Hari menjelang pernikahan, saat itu aku baru saja pulang dari mem-fix kan pesanan dekorasi, HP ku berbunyi. Ternyata sms dari calon suamiku yang menyatakan kalau dia baru saja kecelakan motor bersama adiknya, dan kondisinya agak parah, terutama bagian wajahnya. Bahkan, ia sempat pingsan 2x. Aku terkejut. Lha…terus jadi bisa ke sini nggak?, tapi dia menegaskan akan tetap datang ke pernikahan kami (ya wajib lah…).

Keesokan harinya pas sore2, aku, Bapak, dan Heru, ponakanku menjemput ke terminal. Itu pun karena keluarganya sms kami dengan huruf kapital semua dan penuh tanda seru (duh…waktu itu aku kaget sekali. koq kayak orang marah2 gini?. Belakangan aku baru tahu kalo yang sms tu adiknya dan emang ciri khasnya gitu meski nggak marah..)agar menjemputnya. Keluarganya khawatir karena dia pergi ke yogya sendirian padahal baru sehari kecelakaan sampe pingsan 2 x. Okay….

Pas kami ketemu, aku kaget juga karena wajahnya kasihan, babak belur gitu.. dia ditemani temennya, Mas Puji. Ternyata, lebih parah dari dugaanku. Bahkan, ia masih belum bisa mandi biasa karena badannya juga banyak lecet2nya. Rencana keluarga kami pun berubah. Ia boleh menginap di rumahku karena kalo menginap di rumah mbakku ntar kasihan, kecapekan. Jadilah malam itu dia dan Mas Puji menempati calon kamar pengantin kami. Oh, iya, aku belum bilang..nama suamiku tu Mukh. Gufron Ikhsan, anak pertama dari tiga bersaudara dari sebuah keluarga yang sangat rapi di Mojokerto (he..he…soalnya aku berantakan sih..)

Orang-orang pada bingung waktu mereka datang. Calon suami Nora yang mana? Mereka mengiranya justru Mas Puji calon suamiku..coz wajah Mas Gufron emang kayake nggak wajah calon pengantin. Luka-lukanya masih baru

Paginya, kami berempat (aku, adikku, Mas Gufron dan Mas Puji ke puskesmas untuk minta surat sehat sebagai syarat nikah. Makhlum… calon suami dari jauh dan aku pun ada di Jakarta jadi kami bahkan belum pernah ke KUA buat ngurus.
Bahkan, fotonya pun lupa nggak kebawa..

Siangnya, saat yang ditunggu-tunggu tiba. Kami udah dirias dan tinggal menunggu waktu pembukaan, tiba2 kami dipanggil pihak KUA. Kami pun keluar dan menghadap. Kirain ada apa, eh ternyata kami dimarahi karena masih kurang beberapa syarat. Bahkan, formulirnya pun belum kami is (Lha..Pak..yang ngurus kan Bapak, dan kami nggak tahu apa-apa..). Kami pun melengkapi semua kecuali foto Mas Gufron karena keluarganya juga lupa nggak bawa.

Saat nasehat dan doa setelah ijab qabul, suamiku menunduk terus. Sebentar kemudian bahunya berguncang-guncang. Ups..dia menangis!!. Aku bingung mau gimana. Padahal biasanya, mempelai putri yang nangis. Tapi aku aja nggak nangis, eh, suamiku malah menangis.

Kemudian, saat waktunya makan-makan..(duh…aku cuma bisa liat. laper…), teman-temanku yang notebene dari jauh-jauh pamit sama aku karena jam 4 sore udah nggak ada bis lagi ke kota yogya. Makhlum…masih Bantul desa… Mereka maju ke depan dan minta untuk foto-foto dulu bersama kami. Eh, suamiku ternyata pemalu. dia malah menyingkir dan mempersilahkan teman2 untuk berfoto sama aku. Teman-temanku akhirnya semua naik ke panggung. Dia pun tergeser dan menyenggol hiasan bunga yang terletak di samping. Hiasan itu pun jatuh dan hampir menimpa kakeknya dari Madiun. Untung aja Mbahnya cakatan dan bisa menangkap. Penonton pun tertawa. Duuh…malunya…

Apalagi, saat ustadz memberi nasehat/wejangan pernikahan, ustadz itu malah menyinggung-nyinggung soal kejadian itu. Apalagi, suamiku sama sekali nggak senyum meski pada bercanda. Makhlum…bibirnya juga terluka sehingga menghapus senyumnya untuk sementara. Tapi sepertinya sang ustadz nggak melihat itu. Ustadznya malah menyalahkan aku. Hu…

Semua agenda pernikahan selesai sekitar jam 16.00 dan aku pun mulai memasuki babak baru dalam hidupku… ^-^

Suamiku…ijinkanlah aku menjadi bidadarimu… Rabu, Mei 14 2008 

20 Oktober 2007…

Sebuah hari yang merubah statusku dan hidupku. Dan kini sudah 7 bulan aku mengarungi hari yang penuh suka duka dan gembira bersama sosok yang selalu kunanti tiap senin-jum’at jam 17.15 di tempat ojek (lho..?), Suamiku…

Bagiku, pernikahan ini adalah sesuatu yang benar-benar istimewa. Pertama kali kami bertemu di An-Nuur waktu membahas masalah TPA, sama sekali saat itu tidak ada pikiran akan bisa menjadi pendamping hidupnya dan kini setiap hari aku bisa bertemu dan bercanda dengannya di rumah kami.

Suamiku…, betapa beruntungnya diriku karena dari sekian banyak wanita di dunia ini, ternyata aku yang kau pilih untuk menjadi istrimu. Meski terlalu banyak kekurangan pada diriku, tapi kau selalu sabar dan berusaha untuk selalu membantuku mengurusi pekerjaan yang harusnya menjadi kewajiban istri.

Rasa malas yang sering hinggap pada diriku kau tanggapi dengan sabar, meski terkadang riak-riak penuh warna turut hadir dalam rumah tangga kita. Semoga riak-riak itu akan semakin mengukuhkan hati-hati kita dan bukannya menodai kebahagiaan kita.

Suamiku…, ijinkanlah aku menjadi bidadarimu. Meski aku tahu aku bukanlah istri yang terbaik, bahkan aku adalah istri yang buruk. Tapi hati ini selalu berharap agar bisa selalu bersamamu.

Suamiku…, ijinkanlah aku menjadi bidadarimu, meski mungkin aku tidak bisa menjadi satu-satunya bidadarimu karena di sana banyak bidadari lain yang menarik hatimu, tapi ijinkanlah kau memilihku lagi untuk menemanimu lagi di syurga nanti, Amin..

Bersama kita akan memuji asma Allah sepanjang hari, bersama jundi-jundi tercinta kita..

Ya Allah..lapangkanlah jalan kami untuk menuju syurga-Mu..

Ya Allah..jauhkanlah kami dari kemalasan yang menjauhkan kami dari-Mu.

Antara Harapan dan Kenyataan Rabu, Mei 14 2008 

Siapa sich yang nggak pingin Islam kembali jaya? Tentu hanya musuh-musuh Islam aja kan?. Seorang muslim pasti menginginkan cahaya Islam kembali menyinari seluruh dunia (yach…siapa tahu ada yang baru pergi ke luar angkasa, makanya aku tulis dunia..).

Suatu hari waktu kajian, kami diberikan nasehat mengenai antara dakwah dan maksiat. Kata-kata ustadz yang begitu dalam terus membekas dalam diriku sampai sekarang. "Maksiat itu akan menghancurkan dakwat. Karena itulah kita harus menghilangkan atau minimal berusaha mengurangi perbuatan-perbuatan maksiat kita karena mungkin tanpa kita sadari, tapi itu akan menghacurkan dakwah. Dakwah adalah sesuatu yang suci. Bagaimana ia dapat disampaikan kalau hati kita penuh maksiat?. Bagaimana kita ingin mengenalkan cahaya Islam ini pada orang lain kalo kita sendiri pun cahaya itu hampir-hampir pudar karena tertutupi oleh dosa?".

Aku tertunduk terus mendengarkan nasehat-nasehat sang ustadz yang seolah-olah menusuk-nusuk langsung ke dalam hatiku. Ya Allah… ampunilah dosa-dosa hamba-Mu ini…

Selama ini selalu didengungkan bahwa sekecil apa pun peran kita dalam dakwah, kalau kita ikhlas, yakinlah bahwa itu akan dibalas oleh Allah dengan ganjaran yang jauh lebih baik.

Selama ini yang selalu didengungkan adalah bahwa kita harus memperbanyak amal-amal kita, menjaga ruhiyah kita dengan senantiasa menjaga amal-amal kita. Jadinya sering terlupakan kalau orang sangat merugi ketika ia disidang dengan membawa banyak amal tapi kemudian setelah ditimbang, ternyata dosa-dosanya masih jauh lebih banyak.

Kembali aku merenungi diriku. Selama ini aku hanya ingin membantu dalam dakwah. Turut berkiprah meski sangat kecil porsinya dan cuma sebatas bantu-bantu teman. Tapi, bagaimana kalau niatku membantu justru karena aku terus berkubang dalam maksiat, maka aku malah ikut berpartisipasi dalam menghancurkan dakwah?

Pantas saja dakwah di Indonesia ini masih merangkak-rangkak meski sudah banyak kader dakwah di seluruh penjuru. Karena mungkin kualitasnya dari luar saja kelihatannya kader itu bagus, hanif tapi…betapa banyak maksiat yang dilakukan, entah sadar atau tidak. Kader dakwah adalah bagaikan tiang penyangga dakwah. Kalau tiangnya sudah berlubang-lubang, apa yang akan terjadi pada bangunan itu sendiri?

Selama ini, aku sering menemukan "hal yang seharusnya tidak dilakukan" oleh seorang yang dikatakan bagus pemahaman agamanya dan aku selalu kecewa. Ternyata begitu banyak orang Islam yang dari luar penampilannya sudah seolah seorang muslim yang baik, tertutup rapi tapi….

Yang berguguran di jalan dakwah..

Bukan hanya orang-orang yang kembali tidak aktif dalam kegiatan dakwah.

Tapi juga orang-orang yang futur terus-terusan dalam menjaga kualitas dirinya di hadapan Allah meski ia terus terlibat dalam dakwah secara aktif, tanpa seorang pun mengetahuinya..

Wallahu a’lam

Ya Allah…jagalah kami agar senantiasa mengingat-Mu dalam detik-detik hidup kami..

Jagalah kami dari perbuatan-perbuatan yang tidak Engkau ridhoi..

Pertautkanlah hati-hati kami dalam ukhuwah Islamiyah, yang saling menjaga sesama saudara seiman, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran..

 

Asa itu masih ada.. Rabu, Mei 14 2008 

Kalimat judul itu begitu saja terlintas dalam pikiranku. padahal, mungkin nggak nyambung sama sekali dengan apa yang ingin ku ungkapkan. entahlah..

Saat itu aku masih kuliah di STAN D3 Kebendaharaan Negara tingkat II. Mbakku tercinta (habis, cuma ada satu.. ^-^) saat itu masih berada satu kota untuk menemaniku. ciee…emang penempatannya di Jakarta sich. tepatnya di KPP Tebet. Aku lupa di mana alamatnya, yang jelas sich di Tebet. He..he..

Sebagai adik, berhubung Tebet-Bintaro bagiku sangat jauh. Belum lagi kesibukanku di kampus (bantu-bantu temen aja sich) dan kondisi tubuhku yang emang dari dulu labil, gampang down, jadi menurutku sich, wajar aja kalo aku jarang ke sana. Sebagai gantinya,Mbak Nanik lah yang setia hampir 2 minggu sekali menjengukku (Aku sebut menjenguk, karena emang, dulu maagku sama tensiku yang rendah hampir selalu setia menemani hariku tanpa kuinginkan..).

Nah, suatu hari, berhubung aku juga sakit mata, Mbak Nanik menyarankan untuk ke kostnya karena di sana ada puskesmas yang pelayanannya sangat bagus. Akhirnya jadilah aku untuk kesekian kalinya ke kostnya yang baru (terhitung sudah 4 kali Mbakku itu pindah kost-an selama sekitar 2 tahun di Jakarta tapi seingatku aku juga baru mengunjunginya empat kali ^-^).

Pas hari kerja, Mbak Nanik pergi ke kantornya dan meninggalkanku sendirian di kost. Pas enak-enaknya bermalas-malasan di kamar, eh HP kesayanganku berbunyi. Ternyata Mbakku butuh bantuan di kantornya dan memintaku datang ke sana. Okay, bergegas aku bersiap siap dan melangkahkan kaki menuju kantor Mbakku yang cuma sekitar 10 menit jalan kaki.

Tapi…, begitu keluar pintu aku langsung bingung. Jalannya ke kanan apa ke kiri ya? Ah…pake insting aja ah… Aku kembali melangkahkan kaki dengan mantap. Tiap belokan aku hanya mengandalkan insting arahku yang seringnya salah (Aku tu orangnya mudah banget tersesat). Lho…koq…rasanya udah capek kaki ini melangkah. Tak terasa udah sekitar 2 jam aku melangkahkan kaki nggak jelas. Heran, koq bisa juga ya…padahal biasanya 15 menit jalan aja udah ngos-ngosan. Tiap aku nanya orang, diarahkan ke arah yang makin menjauhkanku dari KPP Tebet. Duh…Jakarta…

Akhirnya aku berhenti di tempat ojek. kakiku sudah tidak kuat lagi.

"Pak, maaf mau tanya.., KPP Tebet di mana ya Pak?", tanyaku dengan memelas.

"Lho…lha nggak tahu dek. Kalo lurus ke sana tu Setia Budi", jawab Bapak itu sambil menunjuk jalan lurus di depanku.

"Hah!, Setia Budi?", aku langsung tambah lemes. Bapak itu menawari ntuk diantar pake ojeknya tapi aku menggeleng dengan lemas. "Saya nggak bawa uang sepersen pun Pak…"

Untuk ke kantor yang cuma 10 menit jalan kaki, wajar kan nggak perlu bawa uang?.

" Adik dari Jawa ya?. Ini Jakarta dek..jangan pergi-pergi sendirian kalo nggak tahu jalan. Jangan mudah percaya kalo tanya jalan ke orang Jakarta. Di sini seringnya mah malah disesatin..", Nasehat Bapak itu.

"Iya Pak..", jawabku linglung.

Sementara itu ada Ibu2 beserta 2 anaknya yang masih kecil ke situ dan meminta untuk diantar ke suatu tempat. Tapi Bapak itu tak bergeming dan memandangku dengan iba.

"Udah dik..yuk saya antar ke sana", kata Bapak itu seraya bangkit.

"Saya nggak punya uang Pak..", jawabku menolak.

"Nggak pa..pa.. nggak usah bayar", jawab Bapaknya.

"Makasih banyak Pak…", jawabku penuh haru. Duh..baiknya Bapak ini..nggak kayak orang-orang yang menyesatkanku tadi..

Akhirnya kami berangkat menuju supermarket yang seingetku ada di sebelah KPP Tebet persis. Aku sudah lupa namanya apa. Begitu sampai, aku agak heran. Emang sich…nama supermarketnya sama. Tapi koq kayaknya nggak sesuai bayanganku ya?.

"Beneran ini", tanya Bapaknya sambil mengeluarkan dompetnya.

"Sepertinya iya Pak. Makasih banget ya Pak.. Maaf, saya nggak bisa bayar..", jawabku dengan agak ragu-ragu.

"Coba liat dulu bener ini apa bukan?, ni ada uang ntar kalo salah biar kamu bisa nggunain", kata Bapak itu sambil menyodorkan beberapa lembar uang seribuan.

Aku makin nggak enak. "Udah Pak, nggak usah makasih banyak…", masak aku yang ngojek malah Bapaknya yang bayar?

Akhirnya Bapak itu pergi dari hadapanku setelah berbasa-basi ria.

Aku melangkah pelan-pelan menuju supermarket itu. Aku lihat ke sekeliling dengan hampa. Di mana KPP Tebet ???, Y Allah…ternyata aku tersesat lagi !!.

Dengan muka memelas aku menuju pos satpam dan bertanya. "Lho..supermarket ini kan ada dua. satu di sini satunya lagi di daerah Tebet, yang seperti Mbak bilang, di deket KPP Tebet..", jawab salah satu satpam.

Degg..kakiku yang emang udah lemes semakin lemes lagi. Salah lagi ???. Y Allah..bantulah hamba-Mu ini… Gimana ini?. Bapak Ojek itu juga udah pergi… Satpam itu menyarankan untuk naik ojek yang banyak mangkal di sebelah supermarket. Tapi aku menggeleng dan dengan jujur bilang kalo aku nggak bawa uang. Satpam itu malah mengantarkanku ke tempat ojek-ojek mangkal. Aku cuma mengikutinya tanpa harapan. Rasanya ingin aku menangis di situ tapi aku tahan-tahan. Ah..Nora emang cengeng.

Ternyata satpam itu menyuruh ojek di situ untuk mengantarku dan membayar sepuluh ribu. Aku terkejut dan haru kembali menguasai diriku. Ya Allah… hari ini telah Kau tunjukkan padaku orang-orang yang baik bahkan pada orang yang baru semenit dikenalnya. Ah..kenal?..mereka saja tidak tahu siapa namaku !!. Aku banyak-banyak berterima kasih pada satpam itu dan aku pun kembali naik ojek menuju KPP Tebet yang sebenarnya.

Alhamdulillah…akhirnya aku sampai juga di KPP Tebet di mana Mbak Nanik sudah khawatir menungguku.

Ya Allah..limpahkanlah rahmat-Mu dan lapangkanlah rezeqi-Mu untuk kedua orang hamba-Mu yang telah dengan ikhlas menolongku. Aku tidak bisa membalas jasa mereka, hanya do’a dari lubuk hati yang paling dalam teruntuk Pak Ojek dan Pak Satpam.

 

Salam sapa… Rabu, Mei 14 2008 

Assalamu’alaikum..

Di tengah-tengah kesibukan sebagai seorang pegawai di BPKP, ingin rasanya berbagi cerita, harapan dan saling mendoakan dengan saudara-saudara seiman di seluruh penjuru bumi Allah.

Blog ini terutama dibuat teruntuk suamiku tercinta yang senantiasa hadir dalam setiap rinduku.

Ya Allah.., mudahkanlah langkah-langkah kami dalam mengarungi bahtera pernikahan kami..